Selasa, 27 April 2021

JURNAL PERJALANAN PEMBELAJARAN - KONEKSI ANTAR MATERI - MODUL 3.2

TUGAS 3.1.a.8 KONEKSI ANTAR MATERIPENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

ARIS BUDIASONO – SMP NEGERI 1 BANYUMAS


 

A.   FILOSOFI PATRAP TRILOKA KHD DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

1.    "Ing ngarsa sung tulodo: di depan memberi teladan"

berarti seorang guru harus mampu menjadi contoh/teladan bagi siswanya, baik sikap maupun pola pikirnya.

Artinya Seorang guru sebagai pemimpim pembelajaran dalam mengambil keputusan sebaiknya penuh analisis dan berbagai pertimbangan hal ini disebabkan keputusan yang akan dibuatnya akan dijdkan contoh bagi anak didik baik dikelas mapun  disekolah .

2.    "Ing madyo mangun karso: di tengah memberikan semangat"

berarti bila guru berada di antara siswanya maka guru tersebut harus mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi siswanya, sehinggga siswa diharapkan bisa lebih maju dalam belajar.

Artinya : Keputusan yg diambil seorang guru sbg pemimpin pembelajaran hendaknya bisa mempertimbangkan dan memberikan  karso kemauan dan semangat bagi murid” nya.

3.    "Tut wuri handayani: di belakang memberikan daya kekuatan"

Artinya dari belakang keputusan yang diambil seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran hendaknya mampu memberikan dukungan fisik dan dukungan moral kepd murid” disekolahnya.

 

B.  Nilai-nilai yang ada dalam diri kita tentu saja berpengaruh pada prinsip-prinsip pengambilan keputusan yang akan kita ambil, ketika seorang guru sudah kehilangan idealiasmenya & mengutamakan kepentingan pribadi / seorang guru sudah tidak menerapkan nilai kejujuran dalam kesehariannya maka dalam pengambilan keputusan bukan tidak  mungkin sebagai pemimpin pembelajaran guru lebih mengutamakan kepentingan pribadinya dibandingkan tanggung jawabnya sebagai seorang guru. Namun jika seorang guru tetap memegang teguh  nilai kejujuran bahwa keputusan yang akan diambilnya akan dipertanggungjawabkan dihari akhir maka ketika pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran guru akan tetap memegang teguh keyakinannya, karena dia tahu semua keputusan akan dipertanggungjawabkan di akherat nanti.

 

C. Disesi pendampingan pada materi Pengambilan Keputusan berkaitan dengan kegiatan COACHING. Pada sesi Coaching tentu saja sangat membantu guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan. Pada sesi coaching guru sebagai coachee mampu mengeksplor berbagai solusi optimal serta mengembangkan potensi yang dimilikinya. Tentunya akan berimbas menghasilkan keputusan yang berpihak pada murid dengan tetap mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri peserta didik. Pada kegiatan COACHING dalam mengambil keputusan guru sudah dapat mencoba menerapkan konsep model TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi dan Tanggungjawab). Guru mampu melakukan komunikasi asertif dengan tujuan yang jelas melalui pertemuan dan diskusi yang bersama coachee sehingga dalam komunikasi tersebut sudah mencakup tentang tujuan dari sebuah komunikasi yang dilakukan. Guru mampu memberikan motivasi terhadap coachee untuk bertanggungjawab atas keputusan yang sudah di ambil pada rencana aksi dalam bentuk komitmen terhadap diri sendiri dan orang lain secara konsisten dan berkelanjutan.

 

D.  Lalu pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik yaitu kita harus mempertimbangkan prinsip dengan berbasis kemanusiaan yang berlandaskan peraturan dan berorientasi pada hasil akhir. Sebagai pendidik memang kita tentunya harus lebih mengedepankan kepedulian rasa kemanusiaan namun tidak boleh terlepas dari sebuah aturan karena kita sebagai pendidik harus menanamkan aturan sedini mungkin kepada murid-murid kita. Kesadaran moral dan etika juga sangat penting untuk membentuk karakter murid-murid dengan prinsip hasil akhir yaitu murid kita nantinya dapat menjadi manusia yang humanis sehingga akan siap jika terjun di dunia masyarakat.

 

E. Kemudian cara pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman yaitu dengan cara: pertama kita menganalisis masalah yang terjadi berdasarkan 4 paradigma yaitu (1) individu lawan masyarakat (individual vs community), (2) rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), (3) kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan (4) jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term). kedua kita coba pikirkan keputusan tersebut berdasarkan prinsip (1) berpikir berbasis hasil akhir (ends-based thinking), (2) berpikir berbasis peraturan (rule-based thinking), dan (3) berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking). Lalu ketiga kita uji keputusan yang akan kita ambil berdasarkan 9 langkah uji keputusan yaitu: 1. Mengenali nilai bertentangan, 2. Siapa yang terlibat, 3. Fakta-fakta, 4. Uji benar salah, 5. Uji pradigma, 6. Prinsip resolusi, 7. Investigasi opsi trilema, 8. Buat keputusan, 9. Tinjau & refleksikan keputusan. Dengan demikian maka kita akan dapat mengambil keputusan terbaik yang tidak merugikan pihak manapun.

 

F.    Kesulitan-kesulitan yang ada dilingkungan ketika mengambil keputusan kasus dilema etika antara lain nilai dan budaya masyarakat dilingkungan, paradigma berpikir serta memilih skala prioritas karena dalam dilema etika semua adalah benar .

 

G. Pengambilan keputusan yang tepat tentu saja  berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif dan nyaman. Hal ini akan berimbas pada merdeka belajar ketika murid mampu memilih dan memilah hal yang baik dalam meningkatkan bakat dan potensi yang ada dalam dirinya. Pada akhirnya, memang terdapat pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita. Hal ini karena keputusan yang kita ambil sebagai pemimpin dalam pembelajaran tentunya harus keputusan yang berorientasi keberpihakan pada murid seperti prinsip berhamba pada murid yang dijelaskan oleh Ki Hadjar Dewantara. Jadi semua keputusan tersebut harus mengakomodir pendapat murid, memberikan pembelajaran pada murid, kenyamanan untuk murid dalam belajar dan memiliki hasil akhir yang jelas sehingga akan dapat dirasakan oleh murid secara sadar.

 

H. Selanjutnya seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya yaitu dengan cara pertama, kita harus mampu memahami teori 3 prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma yang terjadi pada situasi dan 9 langkah uji keputusan. Kedua, kita harus memahami karakteristik potensi dan kelemahan dari masing-masing murid kita. Ketiga, kita harus mampu menganalisis moral, etika dan budaya yang terdapat pada diri murid. Keempat, kita harus mampu memahami dan mengenali situasi yang terjadi di lingkungan sekitar murid. Kelima, kita harus mau berpihak pada murid yaitu berkenan mendengarkan pendapat, saran, masukan, ide dan gagasan yang disampaikan oleh murid. Keenam, kita harus mampu memberikan contoh yang baik kepada para murid dalam menjalankan sebuah keputusan. Ketujuh kita selalu berupaya memberikan motivasi kepada murid agar muncul sebuah kemauan yang sadar pada diri murid untuk mau menjalankan sebuah keputusan. Kedelapan, yaitu kita terus memberikan dorongan moral dan material kepada murid dalam melaksanakan sebuah keputusan terutama saat mengalami hambatan. Kesembilan adalah membimbing murid-murid kita baik secara personal ataupun klasikal dengan cara mengarahkan pada jalan keputusan yang terbaik. Kesepuluh yaitu kita merefleksi keputusan yang sudah di ambil berdasarkan perkembangan karakteristik murid dan melakukan perbaikan serta tindak lanjut untuk lengkah berikutnya agar menjadi sebuah keputusan yang terbaik. Keputusan yang diambil guru sebagai pemimpin pembelajaran tentu akan mempengaruhi kehidupan / masa depan muridnya. Ketika Guru   “Mengajarkan anak berhitung itu memang hebat, tapi saat  guru mengajarkan anak apa yang berharga/utama adalah yang terbaik” . Mengajarkan berhitung membutuhkan waktu tetapi mengajarkan mengerti yang utama dan berharga membutuhkan keteladan , proses dan pembiasaaan yag lama dan akan menjadi budaya.

 

I.     Kesimpulan :

  1. Pengambilan keputusan tentu dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diyakini oleh pemimpin pembelajaran. Nilai-nilai yang diharapkan bersumber pada filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu Patrap Triloka.
  2. Guru sebagai pengambilan keputusan mempunyai peran sentral dalam mengajar dan mendidik anak. Terutama dari budi pekertinya, budaya positif yang tumbuh di sekolah, kompetensi sosial emosional yang matang tentu saja mendukung guru dalam mengambil  keputusan di sekolah.
  3. Dalam penerapan pembelajaran terintegrasi pembelajaran berdiferensiasi membuat guru bisa mengoptimalkan kemampuan murid melalui proses coaching yang tepat dengan  menerapkan model TIRTA dengan sistem komunikasi asertif. Kemudian untuk keputusan yang berkaitan dengan murid, kita harus selalu berorientasi keperpihakan pada murid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

CONTOH ASESMEN DIAGNOSIS NON KOGNITIF UNTUK SISWA SMP

 Contoh Asesmen Diagnosis Non Kognitif Untuk SMP Asesemen diagnosis yang dilakukan diawal pembelajaran jarak jauh,  dilakukan untuk melihat ...