Senin, 19 Juli 2021

CONTOH ASESMEN DIAGNOSIS NON KOGNITIF UNTUK SISWA SMP

 Contoh Asesmen Diagnosis Non Kognitif Untuk SMP





Asesemen diagnosis yang dilakukan diawal pembelajaran jarak jauh, dilakukan untuk melihat kondisi siswa baik secara non kognitif maupun secara kognitif. Asesmen diagnosis non kognitif di awal pembelajaran diberikan kepada siswa untuk mengetahui:

1. Kesejahteraan psikologi dan emosional siswa
2. Aktivitas siswa selama belajar di rumah
3. Kondisi keluarga siswa

Kali ini, Saya akan berbagi contoh asesmen diagnosis non kognitif untuk SMP. Mari kita pelajari....

Selamat pagi. 
Hai anak-anak yang keren dan kece, apa kabar semuanya? Semoga semuanya dalam keadaan sehat ya. Sebelum kita memulai pembelajaran di awal tahun ini, boleh dong Bapak, tanya-tanya sedikit.... Boleh ya.

Sebelum menjawab, perhatikan dulu beberapa pernyataan berikut ini!

Pertanyaan ini bukan pertanyaan ujian atau ulangan. Jawaban pertanyaan yang kalian berikan tidak ada jawaban yang benar atau salah. Jawaban kalian bersifat terbuka artinya bukan jawaban rahasia. Jawaban yang kalian berikan harus jujur dan tidak ada kaitannya dengan nilai rapor. Jawaban yang kalian berikan tidak memiliki skor atau mengandung penilaian.

Setelah memahami pernyataan di atas, yuk mulai menjawab ya, siapkan kertas dan pensilnya.

  1. Aktivitas atau kegiatan apakah yang sering kamu lakukan di rumah saat pandemi sekarang ini?
  2. Bagaimanakah perasaanmu saat melakukan aktivitas tersebut?
  3. Ceritakan dengan singkat bagaimana suasana di rumahmu saat pandemi ini?
  4. Selama pandemi ini kamu Belajar dari Rumah (BDR). Bagaimana perasaanmu saat Belajar dari Rumah?
  5. Bagaimana cara mengajar Bapak, Ibu Gurumu dalam belajar online atau Pembelajaran Jarak Jauh?
  6. Apakah kebutuhan untuk belajar online atau Pembelajaran Jarak Jauh seperti kouta internet, memiliki HP sendiri, atau kuota internet cukup sudah terpenuhi?
  7. Keluhan apa yang ingin kamu sampaikan berkaitan dengan belajar online atau Pembelajaran Jarak Jauh?
  8. Pembelajaran seperti apa yang kamu inginkan dalam Pembelajaran Jarak Jauh di semester ganjil tahun ajaran 2021/2022 ini?
  9. Apa kesulitan yang kamu alami saat Pembelajaran Jarak Jauh?
  10. Bagaimanakah cara kamu mengatasi kesulitan dalam Pembelajaran Jarak Jauh?

Cukup sekian pertanyaannya. Mudah, bukan? Selamat menjawab.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di atas pada buku tulis/kertas folio/kertas HVS. 
Unggah hasil foto pekerjaanmu melalui Whatsapp Grup kelas atau Google Classroom.

Selain asesmen diagnosis non kognitif dalam bentuk pertanyaan, 
Bapak, Ibu juga bisa memberikan gambar-gambar ekspresi emosional kepada siswa, meminta mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka selama belajar dari rumah, meminta siswa untuk mengekspreiskan perasaan tersebut dengan bercerita, melalui tulisan atau lukisan, serta mengidentifikasi siswa-siswa yang memilih emosi negatif. 

Selamat mencoba, Bapak, Ibu.

Kamis, 01 Juli 2021

AKSI NYATA MODUL 3.3 PROGRAM LITERASI DIGITAL (WEBBLOG DAN PAMERAN BUKU) KADER LITERASI SMP NEGERI 1 BANYUMAS ARIS BUDIASONO – CGP BANYUMAS

 I.       PERISTIWA / FACT

A.   Latar Belakang

Literasi Digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dengan maksud menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengembangan literasi digital, ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya adalah konten yang komunikatif dan variatif, bertanggungjawab secara sosial, dan mampu membangun pengetahuan yang lebih baik.

Konsep dan pemahaman seperti di atas jika diaplikasikan ke dalam wilayah sekolah adalah konsep yang sangat baik. Guru dan warga sekolah diharapkan mampu memberikan contoh sehingga konsep literasi digital ini tidak hanya melulu untuk murid, tetapi untuk semua warga sekolah. Ditilik dari skala kepentingannya, literasi digital merupakan item yang perlu untuk dijaga ritme dan ketahanannya. Sekolah dengan kebiasaan ber-literasi yang konsisten, bisa dipastikan pengetahuan serta pola fikir warga sekolahnya akan lebih unggul.

B.   Alasan Melakukan Aksi Nyata

Program literasi digital di SMP Negeri 1 Banyumas mulai ditanamkan sejak dini, maksudnya adalah sejak murid kelas VII (tujuh). Murid diperkenalkan dengan “good news and bad news”, murid diajak untuk mengenali informasi-informasi yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat. Hal ini untuk membantu memfilter terhadap informasi-informasi yang tidak benar dan menyesatkan. Disamping itu, dengan literasi digital, diharapkan murid tidak menjadi gaptek dan “panic IT syndrome”. Murid juga bisa berkolaborasi dengan guru untuk membuat bahan literasi digital sendiri yang bisa bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain. Program ini bersifat long life time, artinya berlanjut terus dan meningkat grade nya seiring tingkat grade dari VII (tujuh) sampai IX (Sembilan) sesuai kelasnya.

 

C.   Deskripsi Aksi Nyata

Dalam implementasi aksi nyata, langkah-langkah yang penulis lakukan adalah sebagai berikut :

1.  Membuat rancangan kerja dan jadwal penyampaian materi sampai kepada pengumpulan karya kader literasi, kesepakatan dengan kader literasi adalah landasannya. (melatih tanggungjawab)

2.  Melakukan sharing knowledge dengan rekan kerja untuk menggali ide dan mendapatkan masukan serta kritik tentang minat siswa

3.  Sosialisasi aksi nyata yang akan dilaksanakan melalui group whatsaap dan memonitor proses pelaksanaan aksi nyata tersebut dengan tetap membuka sesi tanya jawab

4.  Menganalisa hasil karya kader literasi dan mensosialisasikan kepada rekan guru untuk ikut memberikan komentar penyemangat dan kritik yang membangun

5.  Mengevaluasi ketercapaian dengan melihat efek berupa meningkatnya respon siswa dalam mengikuti proses pembelajaran (merasa dihargai karya dan kreasinya).

 

D.   HASIL AKSI NYATA

Tahapan aksi nyata :

Kader literasi dilatih melalui Diklat Penulisan Buku Non Fiksi Ber ISBN




Setelah Kader literasi dilatih melalui Diklat Penulisan Buku Non Fiksi Ber ISBN, mereka dilatih membuat web blog pribadi




Hasil Karya Kader Literasi, Berupa Buku Non Fiksi Ber ISBN




Hasil Karya Kader Lieterasi Webolog Pribadi

a.    Diva Salwa Anastha

https://divasalwaanastha.blogspot.com/ 



b.    Habibah Nur Azizah

https://hanzaidah.blogspot.com/   

 Melakukan Pameran Hasil Karya Kader Lieterasi di Sekolah





II.     PERASAAN / FEELING

Saya merasakan ada energi baru dan merasa bahagia bisa mengelola program yang berdampak pada siswa. Saat siswa diajak berliterasi dengan cara mengikutkan mereka pada kegiatan diklat kader lieterasi sehingga mereka bisa menghasilkan karya buku non fiksi ber ISBN, kemudian siswa diajak berkolaborasi unjuk karya membuat webblog pribadi. Saya mengajak siswa belajar berliterasi digital. Berliterasi Digital dapat dilakukan melalui media sosial yang mereka miliki. Aksi baik itu dapat dipublikasikan dengan tujuan sebagai inspirasi, bukan pamer, berharap siswa meningkat daya pemahaman bacanya (meningkat daya literasinya), mengapresiasi karya siswa dengan menampilkannya di dalam wall information / papan tulis online di dunia digital melalui webblog pribadi. Dan membuat pameran hasil karya buku kader lieterasi sehingga lebih menanamkan rasa percaya diri mereka dalam mengembangkan bakat literasi yang mereka miliki.

  

III.    PEMBELAJARAN / FINDING

Pembelajaran yang saya dapat adalah saya dapat mengelola program yang berdampak pada murid yaitu program literasi digital (webblog dan pameran buku) Kader Literasi SMP Negeri 1 Banyumas. Ketika mereka diikutkan kedalam kegiatan Diklat Penulisan Buku non fiksi Ber ISBN, dan siswa dapat menuangkan bakat mereka menjadi senuah karya buku, serta dilatih membuat webblog pribadi sehingga hasil tulisannya bisa berada pada media sosial mereka dan di kolaborasikan / ditunjukkan perasaan mereka di dunia maya secara online. Pemahaman orang tua terhadap proses pembelajaran di dunia digital perlu terus distimulus dengan aksi nyata dan bermanfaat yang ditunjukkan langsung oleh siswa. Orang tua pun dapat memonitor kegiatan anaknya dan dapat ikut serta dalam memberikan semangat dan kritik yang membangun. Motivasi anak dibangun perlahan dan pasti dengan sentuhan langsung orang tua di sekolah dan orang tua di rumah.

 

IV.   PENERAPAN KE DEPAN

Memberikan pemahaman yang lebih baik tentang manfaat dan bagaimana memanfaatkan media sosial dan memanfaatkan fasilitas aplikasi-aplikasi di internet dalam proses pembelajaran, berkolaborasi untuk membuat karya-karya positif di dunia digital. Mengajak siswa berliterasi digital melalui media sosial. Melakukan refleksi terhadap hasil aksi nyata untuk lebih meningkatkan kodrat alamiah anak dan apresiasi terhadap hasil karya siswa.

Selasa, 27 April 2021

JURNAL PERJALANAN PEMBELAJARAN - KONEKSI ANTAR MATERI - MODUL 3.2

TUGAS 3.1.a.8 KONEKSI ANTAR MATERIPENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

ARIS BUDIASONO – SMP NEGERI 1 BANYUMAS


 

A.   FILOSOFI PATRAP TRILOKA KHD DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

1.    "Ing ngarsa sung tulodo: di depan memberi teladan"

berarti seorang guru harus mampu menjadi contoh/teladan bagi siswanya, baik sikap maupun pola pikirnya.

Artinya Seorang guru sebagai pemimpim pembelajaran dalam mengambil keputusan sebaiknya penuh analisis dan berbagai pertimbangan hal ini disebabkan keputusan yang akan dibuatnya akan dijdkan contoh bagi anak didik baik dikelas mapun  disekolah .

2.    "Ing madyo mangun karso: di tengah memberikan semangat"

berarti bila guru berada di antara siswanya maka guru tersebut harus mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi siswanya, sehinggga siswa diharapkan bisa lebih maju dalam belajar.

Artinya : Keputusan yg diambil seorang guru sbg pemimpin pembelajaran hendaknya bisa mempertimbangkan dan memberikan  karso kemauan dan semangat bagi murid” nya.

3.    "Tut wuri handayani: di belakang memberikan daya kekuatan"

Artinya dari belakang keputusan yang diambil seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran hendaknya mampu memberikan dukungan fisik dan dukungan moral kepd murid” disekolahnya.

 

B.  Nilai-nilai yang ada dalam diri kita tentu saja berpengaruh pada prinsip-prinsip pengambilan keputusan yang akan kita ambil, ketika seorang guru sudah kehilangan idealiasmenya & mengutamakan kepentingan pribadi / seorang guru sudah tidak menerapkan nilai kejujuran dalam kesehariannya maka dalam pengambilan keputusan bukan tidak  mungkin sebagai pemimpin pembelajaran guru lebih mengutamakan kepentingan pribadinya dibandingkan tanggung jawabnya sebagai seorang guru. Namun jika seorang guru tetap memegang teguh  nilai kejujuran bahwa keputusan yang akan diambilnya akan dipertanggungjawabkan dihari akhir maka ketika pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran guru akan tetap memegang teguh keyakinannya, karena dia tahu semua keputusan akan dipertanggungjawabkan di akherat nanti.

 

C. Disesi pendampingan pada materi Pengambilan Keputusan berkaitan dengan kegiatan COACHING. Pada sesi Coaching tentu saja sangat membantu guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan. Pada sesi coaching guru sebagai coachee mampu mengeksplor berbagai solusi optimal serta mengembangkan potensi yang dimilikinya. Tentunya akan berimbas menghasilkan keputusan yang berpihak pada murid dengan tetap mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri peserta didik. Pada kegiatan COACHING dalam mengambil keputusan guru sudah dapat mencoba menerapkan konsep model TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi dan Tanggungjawab). Guru mampu melakukan komunikasi asertif dengan tujuan yang jelas melalui pertemuan dan diskusi yang bersama coachee sehingga dalam komunikasi tersebut sudah mencakup tentang tujuan dari sebuah komunikasi yang dilakukan. Guru mampu memberikan motivasi terhadap coachee untuk bertanggungjawab atas keputusan yang sudah di ambil pada rencana aksi dalam bentuk komitmen terhadap diri sendiri dan orang lain secara konsisten dan berkelanjutan.

 

D.  Lalu pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik yaitu kita harus mempertimbangkan prinsip dengan berbasis kemanusiaan yang berlandaskan peraturan dan berorientasi pada hasil akhir. Sebagai pendidik memang kita tentunya harus lebih mengedepankan kepedulian rasa kemanusiaan namun tidak boleh terlepas dari sebuah aturan karena kita sebagai pendidik harus menanamkan aturan sedini mungkin kepada murid-murid kita. Kesadaran moral dan etika juga sangat penting untuk membentuk karakter murid-murid dengan prinsip hasil akhir yaitu murid kita nantinya dapat menjadi manusia yang humanis sehingga akan siap jika terjun di dunia masyarakat.

 

E. Kemudian cara pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman yaitu dengan cara: pertama kita menganalisis masalah yang terjadi berdasarkan 4 paradigma yaitu (1) individu lawan masyarakat (individual vs community), (2) rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), (3) kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan (4) jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term). kedua kita coba pikirkan keputusan tersebut berdasarkan prinsip (1) berpikir berbasis hasil akhir (ends-based thinking), (2) berpikir berbasis peraturan (rule-based thinking), dan (3) berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking). Lalu ketiga kita uji keputusan yang akan kita ambil berdasarkan 9 langkah uji keputusan yaitu: 1. Mengenali nilai bertentangan, 2. Siapa yang terlibat, 3. Fakta-fakta, 4. Uji benar salah, 5. Uji pradigma, 6. Prinsip resolusi, 7. Investigasi opsi trilema, 8. Buat keputusan, 9. Tinjau & refleksikan keputusan. Dengan demikian maka kita akan dapat mengambil keputusan terbaik yang tidak merugikan pihak manapun.

 

F.    Kesulitan-kesulitan yang ada dilingkungan ketika mengambil keputusan kasus dilema etika antara lain nilai dan budaya masyarakat dilingkungan, paradigma berpikir serta memilih skala prioritas karena dalam dilema etika semua adalah benar .

 

G. Pengambilan keputusan yang tepat tentu saja  berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif dan nyaman. Hal ini akan berimbas pada merdeka belajar ketika murid mampu memilih dan memilah hal yang baik dalam meningkatkan bakat dan potensi yang ada dalam dirinya. Pada akhirnya, memang terdapat pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita. Hal ini karena keputusan yang kita ambil sebagai pemimpin dalam pembelajaran tentunya harus keputusan yang berorientasi keberpihakan pada murid seperti prinsip berhamba pada murid yang dijelaskan oleh Ki Hadjar Dewantara. Jadi semua keputusan tersebut harus mengakomodir pendapat murid, memberikan pembelajaran pada murid, kenyamanan untuk murid dalam belajar dan memiliki hasil akhir yang jelas sehingga akan dapat dirasakan oleh murid secara sadar.

 

H. Selanjutnya seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya yaitu dengan cara pertama, kita harus mampu memahami teori 3 prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma yang terjadi pada situasi dan 9 langkah uji keputusan. Kedua, kita harus memahami karakteristik potensi dan kelemahan dari masing-masing murid kita. Ketiga, kita harus mampu menganalisis moral, etika dan budaya yang terdapat pada diri murid. Keempat, kita harus mampu memahami dan mengenali situasi yang terjadi di lingkungan sekitar murid. Kelima, kita harus mau berpihak pada murid yaitu berkenan mendengarkan pendapat, saran, masukan, ide dan gagasan yang disampaikan oleh murid. Keenam, kita harus mampu memberikan contoh yang baik kepada para murid dalam menjalankan sebuah keputusan. Ketujuh kita selalu berupaya memberikan motivasi kepada murid agar muncul sebuah kemauan yang sadar pada diri murid untuk mau menjalankan sebuah keputusan. Kedelapan, yaitu kita terus memberikan dorongan moral dan material kepada murid dalam melaksanakan sebuah keputusan terutama saat mengalami hambatan. Kesembilan adalah membimbing murid-murid kita baik secara personal ataupun klasikal dengan cara mengarahkan pada jalan keputusan yang terbaik. Kesepuluh yaitu kita merefleksi keputusan yang sudah di ambil berdasarkan perkembangan karakteristik murid dan melakukan perbaikan serta tindak lanjut untuk lengkah berikutnya agar menjadi sebuah keputusan yang terbaik. Keputusan yang diambil guru sebagai pemimpin pembelajaran tentu akan mempengaruhi kehidupan / masa depan muridnya. Ketika Guru   “Mengajarkan anak berhitung itu memang hebat, tapi saat  guru mengajarkan anak apa yang berharga/utama adalah yang terbaik” . Mengajarkan berhitung membutuhkan waktu tetapi mengajarkan mengerti yang utama dan berharga membutuhkan keteladan , proses dan pembiasaaan yag lama dan akan menjadi budaya.

 

I.     Kesimpulan :

  1. Pengambilan keputusan tentu dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diyakini oleh pemimpin pembelajaran. Nilai-nilai yang diharapkan bersumber pada filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu Patrap Triloka.
  2. Guru sebagai pengambilan keputusan mempunyai peran sentral dalam mengajar dan mendidik anak. Terutama dari budi pekertinya, budaya positif yang tumbuh di sekolah, kompetensi sosial emosional yang matang tentu saja mendukung guru dalam mengambil  keputusan di sekolah.
  3. Dalam penerapan pembelajaran terintegrasi pembelajaran berdiferensiasi membuat guru bisa mengoptimalkan kemampuan murid melalui proses coaching yang tepat dengan  menerapkan model TIRTA dengan sistem komunikasi asertif. Kemudian untuk keputusan yang berkaitan dengan murid, kita harus selalu berorientasi keperpihakan pada murid.

Sabtu, 13 Maret 2021

TONGKAT ESTAFET KADER LITERASI SMP NEGERI 1 BANYUMAS


Perjalanan literasi di SMP Negeri 1 Banyumas tidaklah selalu indah dan mudah seperti membalikkan telapak tangan. Selama hampir dua tahun, Ibu Kepala Sekolah Endah Kurniasih, S.Pd merintis dan memotivasi warga sekolah, baik guru, staf TU dan murid untuk gemar berliterasi, khususnya literasi menulis. Alhamdulillah, melalui perjalanan panjang selama dua tahun telah terbit 64 judul buku hasil karya Kepala Sekolah, Staff TU, Guru dan Murid dengan berbagai jenis buku Fiksi dan Non Fiksi. Sebanyak 15 judul buku, merupakan hasil karya murid yang sekarang sudah kelas 8 dan 9, bahkan sudah ada yang melanjutkan kesekolah menengah. Gelora literasi menulis buku harus terus digalakkan dikalangan murid. Hal ini membuat Ibu Endah selaku kepala sekolah, memandang perlunya estafet kader literasi agar murid terus berkarya. Gayung bersambut, melalui program kerja jangka pendek Calon Guru Penggerak Angkatan I Kabupaten Banyumas, Mistina Hidayati, S.Pd dan Aris Budiasono, S.Kom, SMPN 1 Banyumas berencana mengadakan kegiatan Diklat Kader Literasi, hasil lokakarya 3 Program Guru Pengerak. 

Setelah berkomunikasi dengan pengurus komite sebagai mitra sekolah, berkordinasi dengan Ketua MKKS Kabupaten dan Sub Rayon 6 Banyumas, serta mendapat restu dari Ibu Irawati, SE, selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, maka dilaksanakan Diklat Kader Literasi Menulis Buku Fiksi Ber ISBN Murid Kelas 7 SMP Negeri 1 Banyumas Tahun 2021, pada tanggal 9-10 dan 12-13 Maret 2021. Kegiatan berlangsung selama empat hari, dengan rincian, dua hari secara tatap muka dan dua hari secara daring. Pembimbingan secara daring selama 20 hari, dengan target 50% peserta diklat dapat menghasilkan sebuah karya buku fiksi ber ISBN. Kegiatan secara luring, tetap memenuhi protokol kesehatan dengan seijin dari Gugus Covid-19 Kecamatan Banyumas

Kegiatan diklat dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Ibu Irawati SE. Dalam kesempatan ini, hadir  pula Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Banyumas (Arpusda), yang diwakili oleh Bapak Sutiarto, Sp, Bapak Sutarno, M.Pd, selaku pengawas pembina SMP Negeri 1 Banyumas, Ibu Nurul Hidayah, S.Pd dan bapak Aji Kusmanto, M.Hum selaku Guru Pendamping CGP, serta budayawan dan sastrawan yang sering dipanggil Kang Nasirun. 

Dalam sambutannya kepala dinas sangat mengapresiasi dan bangga atas kegiatan diklat ini. Beliau juga berpesan kepada seluruh peserta diklat, agar jangan pernah mengeluh dan berputus asa terhadap keadaan yang dihadapi. Ibu Irawati juga memotivasi peserta diklat untuk terus belajar dan berprestasi, “ tunjukkan bahwa kita mampu berkarya, pandemi covid-19 bukan sebagai halangan untuk maju”. Beliau  juga menanyakan kesiapan dan semangat peserta diklat dalam menulis buku, dan dijawab “SIAP” oleh seluruh peserta diklat. Harapan kepala dinas semoga seluruh peserta diklat selalu sehat, rajin mengikuti kegiatan dan bisa menghasilkan karya yang luar biasa dan disukai oleh masyarakat dan bisa dipasarkan di toko buku dan mendapatkan royalti.

Kegiatan luring yang bertempat di SMP Negeri 1 Banyumas ini, di mulai pukul 08.00-14.30 WIB, setiap harinya. Materi yang disampaikan pada hari pertama, yaitu  (1) Motivasi teknik menulis cerita fiksi, disampaikan oleh Budayawan dan Sastrawan kang Nasirun, (2) Teknik Menulis dan Apresiasi Sastra (praktik), disampaikan oleh Ibu Nining Maryaningsih, M.Pd dari Penerbit Embrio Kita. Sementara itu, materi pada hari kedua, meliputi (1)  Tips dan Trik Menulis Buku Fiksi, disampaikan oleh Nur Arifin, S.Pd guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Banyumas, (2) Motivasi dan Tahapan Menulis Buku, disampaikan oleh Bpk Aji Kusmanto, M.Hum. Adapun diklat secara daring dilaksanakan pada hari ke 3 dan 4. Muatan materi diklat meliputi; (1) mendalami dunia fiksi , (2) latihan dan jaring Ide, (3) mencari sudut pandang, (4) eksekusi adegan cerita serta (5) siapkan naskah dan sinopsis. Pemateri kegiatan daring  disampaikan secara bergantian oleh Mistina Hidayati, S.Pd dan Aris Budiasono, S.Kom dilanjutkan pembimbingan secara daring selama 20 hari, sampai menghasilkan karya sebuah buku ber ISBN. 

Semoga, impian dan harapan SMP Negeri 1 Banyumas untuk selalu menjadi pelopor gerakan literasi di Banyumas ini akan terwujud. Karya-karya hebatpun akan terus lahir dari kepala sekolah, guru, karyawan dan murid, hingga mampu memiliki “Rumah Literasi”, agar gelora literasi di sekolah semakin terpupuk. Salam Literasi.

DOKUMENTASI KEGIATAN :

Ka Dindik Kab Banyumas Ibu Irawati, SE, membuka Kegiatan

Pendamping Ibu Nurul Hidayah, S.Pd


Pendamping Bpk Aji Kusmanto, M.Hum

Motivasi dari Kakak Alumni Penulis Buku

Materi dari B Ningning Maryaningsih, M.Pd

Materi Bpk Nur Arifin, S.Pd

Sesi Foto Bersama Kang Nasirun dan Kadin Arpusda


Foto Bersama Peserta Diklat


















Senin, 15 Februari 2021

SELAYANG PANDANG SMP NEGERI 1 BANYUMAS



Dengan mengucap Bismillahhirohmanirohim, saya mencoba memulai menulis Sejarah SMP Negeri 1 Banyumas, dimana di sekolah ini dulu saya pernah bersekolah dan saat ini saya menjadi guru di sini. Informasi saya dapatkan dari hasil wawancara dengan sesepuh guru senior yang merupakan alumni cikal bakal sekolah ini dan beliau juga telah puluhan tahun mengabdikan diri sebagai pengajar di sekolah ini, beliau adalah Bapak Sunaryo.

Angka buta huruf penduduk Indonesia pada masa awal Proklamasi Kemerdekaan masih mencapai 80%, jadi pada awal kemerdekaan disamping mendirikan sekolah di mana-mana, pemerintah juga menyelenggarakan kegiatan Pemberantasan Buta Huruf (PBH), terutama untuk warga yang tidak layak masuk sekolah, misal pamong desa dan orang-orang yang sudah berkeluarga. Tingkatan sekolah yang paling rendah yaitu Sekolah Rakyat (SR) yang sekarang disebut Sekolah Dasar. Karena keterbatasan kemampuan pemerintah waktu itu, tidak semua desa terdapat SR, yang sudah ada SR nya pun belum tentu kelasnya komplit, ada dari kelas 1 (satu) sampai kelas 6 (enam).

Untuk Kecamatan Banyumas, alkhamdulilah merupakan SR yang komplit, lengkap dari kelas 1 sampai dengan kelas 6, di Kecamatan Banyumas terdapat 6 SR, yaitu di Desa Kedunguter SR I, Desa Sudagaran SR 2 dan SR 3, Desa Pakunden SR 4, Desa Pasinggangan SR 5 dan di Desa Kejawar SR 6, untuk Desa yang lain meskipun sudah ada SR nya namun kelasnya belum komplit, sebutan untuk Kepala SR waktu itu adalah Mantri Guru.

Untuk mendukung program pembangunan, maka pemerintah mendirikan sekolah kejuruan (skill), dimulai dari Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Ada empat sekolah kejutuan waktu itu, yaitu Sekolah Teknik Negeri (STN), Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP), Sekolah khusus perempuan Sekolah Kepandaian Putri (SKP) dan sekolah calon guru yaitu Sekolah Guru Bantu (SGB) mengapa disebut Guru Bantu, karena setelah Lulus dari SGB yang di tempuh selama 4 (empat) Tahun, yang lulus akan diperbantukan menjadi guru di Sekolah Rakyat (SR). Untuk sekolah lanjutan atas pemerintah juga sudah menyiapkan Sekolah STM, SMEA, SKKA, SGA.

Menurut informasi dari bapak Sunaryo, bangunan sekolah sekarang yang digunakan untuk Ruang Kantor Kepala Sekolah, adalah cikal bakal SMP sekarang, yang mana waktu itu ruangan tersebut digunakan untuk Sekolah Guru yang dalam Bahasa Belandanya Onderwijzer's Vak Organisatie di singkat OVO, sekitar tahun 1948, tidak lama setelah itu, kurang lebih 2 tahun, berganti nama menjadi Normal School, dan pada tahun 1951 berubah menjadi SGB. 

SGB Negeri Banyumas menerima murid terakhir pada tahun ajaran 1957/1958, dan ditahun berikutnya 1959, Sekolah mulai menerima Siswa SMP, pada tahun 1961 SGB menamatkan siswa terakhirnya dan SMP Menamatkan siswa pertamanya.  (Part 1)... Bersambung   





DOKUMENTASI LAWAS SMP NEGERI 1 BANYUMAS










AKUN GSUITE VS BELAJAR.ID

Belum lama ini Kementrian Pendidikan meluncurkan program pemberian akun GSuite untuk semua sekolah dibawah naungan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dari mulai tingkat dasar, menengah sampai tingkat atas. dengan nama akun belajar.id

Tidak hanya Siswa yang  mendapatkan akun belajar.id tersebut, tetapi juga Tenaga Pendidik dan kependidikan mendapatkan akun tersebut. dengan mendapatkan akun belajar.id semakin memudahkan siswa dan guru untuk berinteraksi dalam kegiatan pembelajaran secara daring. salah satu kelebihan memiliki akun belajar.id adalah penyimpanan yang tanpa batas.

Lalu bagaimana untuk sekolah-sekolah yang sudah memilik akun GSuite, apa perbedaannya dengan akun belajar.id. Secara pemanfaatan tidak ada perbedaan antara Akun Gsuite yang di dapatkan oleh sekolah secara Deploy Mandiri dan Akun belajar.id bantuan dari Kementrian Pendidikan, perbedaan hanya terletak pada Pengelolaan Admin akun tersebut. Berikut tampilan perbedaan Konsul Admin GSuite Sekolah dan Konsul Admin belajar.id


Untuk Konsul Admin GSuite Sekolah terdapat 16 tampilan Menu untuk pengaturan Akun, Sedangkan Konsul Admin belajar.id hanya terdapat 4 tampilan Menu, itu pun yang berfungsi hanya, menu Pengguna yang berfungsi hanya untuk meresset sandi Akun bila ada siswa atau guru yang lupa kata Sandi. Berbeda dengan hak Super Admin yang dimiliki oleh GSuite Sekolah yang mana bisa juga menambahkan Akun untuk penguna baru di sekolah tersebut

Senin, 08 Februari 2021

PENDAFTARAN GOOGLE CERTIFIED EDUCATOR LEVEL 1


 

Di era Informasi saat ini, penggunaan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah sudah mulai dilirik oleg para pendidik sebagai salah satu cara menggaet perhatian siswa dan membuat kegiatan belajar mengajar terasa lebih menyenangkan.

Para guru dibekali dengan pengetahuan tentang penggunaan teknologi di kelas lewat seminar pendidikan dan workshop baik dalam maupun luar sekolah. slah satu tool yang sering digunakan para guru adalah paket dari google yaitu sering di sebut GSuite For Education yang berisi berbagai aplikasi dan media yang dapat digunakan guru dan murid untuk mencapai tujuan pembelajaran.

monggo yang berminat silahkan mendaftar di tautan berikut https://edu.google.com/intl/id/teacher-center/certifications/educator-level1/?modal_active=none




TUTORIAL AKTIVASI GSUITE FOR EDUKASI



GSuite for Education merupakan slah satu layanan dari google yang memberikan fasilitas digital untuk sekolah di Indonesia. Program GSuite for Education ini memberikan layanan Gratis salah satunya bisa di berikan secara unlimited untuk sekolah yang ada di Indonesia. 

Layanan Google GSuite for Education telah digunakan banyak institusi pendidikan, mulai dari yang kecil hingga sekelas universitas negeri yang besar, telah menggunakan layanan collaboration Google Suite ini. Jika anda adalah seorang administrator di Perguruan Tinggi atau Vendor untuk membantu urusan-urusan informasi di institusi pendidikan maka dapat memanfaatkan layanan Google Suite ini untuk keperluan institusi. 

CARA MENGAKTIFKAN LAYANAN GOOGLE GSUite For Education

Pada tutorial kali ini kita akan membahas secara lengkap mengenai bagaimana mengaktifkan layanan GSuite FE dan melakukan konfirgurasi domain ke akun GSuite For Education, sampai konfigurasi akun gmail yang terdaftar pada GSuite For Education. meskipun akag teknis namun jangan khawatir karena akan kita bahas dengan pelah-pelan

Semoga Bermanfaat

Berikut Video Tutorial  



CONTOH ASESMEN DIAGNOSIS NON KOGNITIF UNTUK SISWA SMP

 Contoh Asesmen Diagnosis Non Kognitif Untuk SMP Asesemen diagnosis yang dilakukan diawal pembelajaran jarak jauh,  dilakukan untuk melihat ...